Nikmatnya Ayam Bakar Celup Sindang Sono

Celup-mencelup dalam gaya hidup kuliner rupanya tak selalu identik dengan biskuit yang dimasukkan ke dalam segelas susu. Ayam bakar pun ternyata bisa dicelup. Tak percaya? Coba saja datang ke kedai Ayam Bakar Celup Sindang Sono, Jalan Geger Kalong Girang No. 25, Bandung,

“Jadi, setelah dibakar, ayam dicelup ke dalam kecap yang sudah dibumbui,” kata Angga Andriyatna, 26 tahun, yang menjalankan usaha bersama kedua orang tuanya ini, kepada Tempo, Minggu (5/9) malam.

Ayam yang hendak dibakar bisa dipilih. Ada yang sebelumnya digodok dengan bumbu kecap, ada juga yang dibumbui kunyit. “Untuk ayam bakar sebenarnya pakai ayam godok kecap, tapi ternyata yang pakai kunyit juga sama-sama senang dipilih (pengunjung),” lanjut ayah satu putra tersebut.

Karena ayam sayur itu sudah diolah, ketika si unggas ini dibakar di atas arang, “Dia tidak diberi bumbu apa-apa lagi. Selesai dari situ langsung dicelup ke panci kecap,” tutur Angga yang meluncurkan resep ini bersama sang ayah, Erus Rusmana, awal 1997 silam.

Lantaran kecap yang digunakan kecap manis, ayam bakar ini condong ke arah cita rasa manis plus gurih. Makanya, cocok bagi pemilik lidah yang berselera masakan manis.

Soal sambal, pengunjung bisa memilih sendiri. Ada dua sambal: sambel hejo (sambal hijau) dan sambal beureum (sambal merah). Mau mencoba keduanya pun tak masalah sebab bagi yang makan di kedai, si hejo dan si beureum itu ditaruh di meja makan sehingga pengunjung bebas mencocol sesuai selera.

Bagi penikmat cabai hijau, sambel hejo cocok dipilih. Selain dibuat dengan komposisi cabai rawit hijau yang digoreng, sambal ulek ini diberi cabai hijau pula. Tak ketinggalan, pakai kencur serta ditambah minyak kelapa.

“Ini yang bikin rasanya mantap dan beda dengan sambal hijau yang pernah saya coba. Tidak terlalu pedas, tapi bikin ketagihan. Jadi muncul sedikit hangat di tenggorokan,” ungkap pengunjung kedai Ayam Bakar Celup Sindang Sono, R. Djohan.

“Kalau sambal beureum itu intinya cabai rawit merah sama cabai merah diblender terus digodok dalam panci, diberi minyak. Untuk resep sambal, ibu saya (Iis Suhayati) yang buat,” terang Angga.

Selain ayam bakar celup, di kedainya ada menu ikan bakar, ayam goreng, ikan goreng, pepes ayam, dan pepes ikan. Ikan yang digunakan itu nila dan bawal. Untuk menu ayam atau ikan bakar, kata Angga, kadang suka ada pembeli yang meminta dicelup juga.

Hidangan tentunya dilengkapi dengan lalapan. Di antaranya kemangi, timun, dan selada. Penyajiannya seperti sambal. Pengunjung bisa bebas mengambil mana yang digemari. Pelengkap menu, yakni tempe atau tahu goreng juga ada.

Di hari biasa, kedai yang dirintis pertengahan 1995 ini masih menjual menu ayam goreng saja, buka setiap hari pukul 09.00-21.00 WIB. Selama Ramadan, mulai beroperasi pukul 16.00-04.00 WIB.

Tak kenal momen, kedai Ayam Bakar Celup Sindang Sono ini setiap harinya bisa terjual antara 300-500 porsi. “Mau hari biasa atau libur sama saja. Kebanyakan hari biasa yang datang mahasiswa. Kalau hari libur, biasanya yang liburan dari Lembang, Minggu, pas mereka mau pulang mampir ke sini,” tambahnya.

Hhhmmm… Bagaimana tak sepi pengunjung, semua menu – baik ayam atau ikan – dibakar, digoreng, maupun dipepes hanya ditarif Rp 8.000 saja. Setangkup nasi harganya Rp 2.000 pula.

Kalau kata Djohan sambil terkekeh, “Nggak bikin kantong bolong lah…”

Sumber     : tempointeraktif
Lihat juga :
Laguna
Sushi tei
Tamani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s