Warung Daun

Warung Daun, satu-satunya restoran yang sudah mulai beralih menggunakan bahan-bahan organic (Go Organic) ini hadir dengan mengusung tema masakan Indonesia sebagai menu pilihan di restoran bergaya arsitektur jaman dulu alias ‘Jadul’. Warung Daun hadir ditengah-tengah para pecinta kuliner, untuk memanjakan sekaligus sebagai bentuk kepedulian untuk melestarikan masakan Indonesia yang pamornya sekarang ini sudah mulai tergeser dengan kuliner dari mancanegara.
Dulunya Warung Daun berawal dari sebuah warung makan pinggir jalan dengan nama Warung Pojok Birah 1, yang berlokasi di Jl. Birah 1 Blok S, Jakarta Selatan. Namun melihat adanya peluang usaha yang menjanjikan dan juga banyaknya pelanggan yang datang untuk menikmati masakan sederhana tersebut, sehingga membutuhkan tempat yang lebih luas lagi, maka sang pemilik Hariyanto Prayitno beserta istri Aji Leddy Susanti akhirnya memutuskan untuk pindah ke daerah Wolter Monginsidi.
Nama Warung pojok yang sudah terlanjur melekat di masyarakat sekitar 2 tahun belakangan, akhirnya diubah menjadi Warung Daun. Awalnya lokasi baru yang terletak tidak jauh dari lokasi pertama Warung Pojok, masih berupa tanah kosong. Dan dari sinilah cikal bakal berdirinya Warung Daun. Kemudian diatas tanah kosong itu dibangunlah sebuah bangunan bergaya arsitektur tempo dulu, dengan tujuan ingin memberikan rasa nyaman pada para pelanggan dan juga ingin menciptakan suasana makan seperti di rumah sendiri.
Nama ‘Warung’ yang dipakai memang sengaja tetap dipertahankan karena mengingat bahwa Warung itu identik dengan orang-orang kelas menengah kebawah yang letaknya di pinggir jalan. Dan dengan tetap menggunakan istilah ‘Warung’ diharapkan bisa mengangkat citra warung menjadi lebih elit dan bisa dinikmati semua kalangan tanpa terkecuali.

Dan tepat tanggal 15 Oktober 2003, Warung Daun resmi dibuka. Konsep awal masakan yang disajikan oleh Warung Daun ini adalah masakan Sunda. “Kenapa dipilih masakan Sunda? Karena masakan Sunda itu mudah dalam pengolahannya. Dengan lalap, sambal dan ikan, hidangan khas Parahyangan ini sudah bisa dinikmati” ujar Leddy saat ditemui di Warung Daun Jl. Pakubuwono.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan juga keinginan untuk mengangkat masakan tradisional Indonesia menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, maka konsep awal masakan Sunda (secara keseluruhan) pun diubah menjadi Indonesian Restaurant (restoran Indonesia). Dimana menunya saat ini sudah semakin beragam, terdiri dari menu-menu dari daerah lain. Meskipun begitu masakan Sunda tetap menjadi pilihan utama di restoran yang sudah memiliki 3 outlet ini.

Lebih lanjut Leddy menjelaskan bahwa “Pada dasarnya sebagai pemilik kami memang tidak mempunyai darah Sunda, Saya berasal dari Kalimantan sedangkan suami asli Jawa. Jadi agar tidak menyalahi pakem-pakem dari adat Sunda itu sendiri, jadi basicly masakan Sunda, diwakili dengan lagu dan makanannya, namun tidak sepenuhnya memasukkan unsur Sunda secara keseluruhan kedalam konsep Warung Daun.”

Yang membedakan Warung Daun dari restoran kebanyakan adalah dalam hal penyajian masakan. Sejak awal beroperasinya Warung Daun sama sekali tidak menggunakan MSG (monosodium glutamat) atau penyedap rasa. Selain itu memasuki tahun kedua, restoran yang baru saja membuka outlet ketiganya di daerah Cikini, Jakarta Pusat itu, sudah mulai mengganti beras dan sayur-sayuran untuk bahan dasar masakan dengan beras dan sayuran organik.

“Kami mengganti beras dan sayur-sayuran dengan yang organik karena terdorong dengan gaya hidup sehat. Selain itu sebagai pendatang baru kami ingin tampil beda, dengan menyajikan terobosan-terobosan terbaru yang semakin mematangkan kami dalam menjalani bisnis kuliner ini,” ungkap Leddy.

Menu andalan di Warung Daun adalah Nasi Liwet, Gurame Saus Mangga dan Tumis Kangkung. Tapi ada satu andalan yang tidak pernah dilewatkan oleh para pelanggannya yakni sambal. Sambal yang khusus diciptakan sendiri oleh Leddy memang sudah membuat para konsumennya jatuh hati. Hal itu dikarenakan, terasi yang dipakai sengaja didatangkan langsung dari kampung halamannya Bontang, Kalimantan Timur. Cobek yang digunakan untuk mengulek bumbu-bumbunya pun, sengaja dibakar untuk menciptakan cita rasa yang nikmat pada sambal buatannya itu.

Soal rasa masakan, Warung Daun sangat memperhatikan secara detail dan berusaha menjaga kualitas dari menu keseluruhannya. 70% dari menu yang ada, diciptakan sendiri oleh Leddy dan sisanya diserahkan kepada para juru masak. Selain itu ungkapan “Serasa Makan Dirumah Bunda” seperti menjadi kata kunci, untuk menciptakan kesan kepada tamu yang datang, seolah-olah seperti menikmati masakan rumahan dan sebagai ‘pengobat rindu’ akan masakan kampung halaman mereka.
Selain itu manajemen Warung Daun juga menyediakan layanan sms untuk menampung semua kritik dan saran yang diberikan oleh para pelanggannya. Hal itu dimaksudnya untuk tetap menjaga komunikasi antara manajemen dan konsumen. Dan juga sebagai wujud komitmen Warung Daun menjadikan semua saran dan kritikan dari para konsumen sebagai masukan yang membangun agar kedepannya bisa lebih baik lagi.
Saat ini Warung Daun sudah memiliki 3 outlet yang terletak masing-masing di Jl. Wolter Monginsidi No. 42, Jl. Pakubuwono Vi No. 10 dan Jl. Cikini Raya No. 26. Dengan visi ‘Cepat & Puas’ dan misi ‘Masakan Indonesia menjadi tuan rumah di negara sendiri’, diharapkan bisa semakin memantapkan eksistensi Warung Daun dalam melestarikan masakan nusantara di Indonesia..

Sumber    : hanyawanita
Lihat juga : marzano, loewy, table8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s