Cloud 9 menyajikan menu Western dan Asia

Sudah lama tempat makan tak sekadar dijadikan sebagai tempat mengisi perut keroncongan. Restoran bisa menjadi lokasi pertemuan dengan kekasih, teman, maupun rekan kerja. Tidak mengherankan bila sejumlah restoran menyajikan pemandangan indah, lengkap dengan alunan musik. Ini pula yang ditawarkan oleh Cloud 9 (dibaca nine cloud), sebuah kafe di Jalan Dagogiri, yang dikenal sebagai daerah Dago Bengkok, Bandung, Jawa Barat.

Di kafe ini, pengunjung bisa melihat pemandangan bukit perkebunan dan lanskap kota Bandung sekaligus. Pada waktu-waktu tertentu, terutama sore hari, pemandangan akan terhalang karena diselimuti oleh kabut, yang terkadang masuk menyusup ke area kafe–yang sebagian besar ruangannya terbuka tak berdinding.

Bahkan, bila beruntung, pengunjung bisa menikmati sunset. “Pengunjung bisa sekaligus menikmati bermacam-macam pemandangan di sini,” kata Andi, pemilik kafe itu.
Sesungguhnya, kafe dengan lokasi begini tentu bukan hal baru. Di Ngarai Sihanok, Bukit Tinggi (Sumatera Barat), dan di kawasan Uluwatu (Bali) juga tersebar sejumlah kafe di tebing kaki gunung. Kafe-kafe itu tak hanya menghidangkan makanan dan minuman guna memuaskan isi perut, tapi juga menyajikan pemandangan yang indah. Tapi tentu masing-masing kafe punya ciri khas sendiri.

Untuk menuju lokasi Cloud 9, jalannya cukup berkelok. Bila datang dari arah Jakarta lewat Pasteur, lalu ke arah Dago, Anda terus saja menuju jalan alternatif arah Lembang. Jalannya agak sempit, hanya cukup dilewati dua mobil. Sementara itu, di sebelah kirinya terdapat jurang dan permukiman penduduk. Kafe itu terletak di kaki bukit.

Mengamati bangunan ini dari luar seperti sebuah warung makan kecil yang suram dengan pagar tembok tinggi. Namun, setelah kita masuk ke dalam kafe itu dan menuruni tangga kayu, baru kita mulai menyadari bahwa bangunan yang memiliki susunan deretan kursi itu adalah sebuah kafe yang berada di lereng bukit.

Andi, yang berkewarganegaraan Inggris, sengaja merancang kafenya demikian rupa supaya terlihat unik dan mengecoh pengunjung. Ia ingin memuaskan pelanggannya yang tak ingin tempat itu terlalu ramai, sehingga mereka bisa nyaman ngobrol dan kongko. “Kalau di pintu depan, saya pajang makanan pasti makin mirip warung,” katanya.

Cloud 9 selalu penuh, terutama pada akhir pekan. Bahkan pengunjung terpaksa antre atau balik badan pergi ke tempat lain bila tak mendapatkan tempat duduk di tempat itu.
Kafe ini didirikan sejak lima tahun lalu. Awalnya, Andi bersama seorang teman yang juga berkewarganegaraan Inggris menyewa sebuah tempat di Jalan Bukit Pakar Timur, Dago. Dua tahun kemudian, kafe itu pindah ke Dago Bengkok karena habis masa sewanya. Tapi kemudian sang teman mengundurkan diri.

Andi bercerita, sebagian besar ide membuat kafe ini berasal dari temannya itu. Mereka berdua ingin membuat kafe yang menyediakan minuman beralkohol, yang saat itu belum ada dan minuman ini hanya dijual di sejumlah hotel atau klub malam. “Maka tercetus ide membuat the new generation restaurant,” ujarnya.

Awalnya, tak banyak pengunjung yang datang, karena belum banyak yang tahu soal tempat ini. Beberapa kali mereka tidak mendapat pendapatan sama sekali dalam sehari. Tapi tiba-tiba pada suatu malam mereka mendapat omzet Rp 1 juta. Sejak itu, kafenya mulai ramai dikunjungi.

Untuk makanan, Cloud 9 menyajikan menu Western dan Asia, seperti pizza burger, grill, tom yam, dan sup buntut. Setiap tiga minggu, mereka menyajikan menu baru yang idenya bisa dari siapa saja, misalnya dari teman, pelanggan, bahkan petugas kebersihan. Selain menyediakan berbagai minuman beralkohol, kafe itu menyajikan kopi serta aneka variasi jus buah.

Andi ingin pengunjung betah di kafenya karena makanan yang enak sekaligus merasakan tempat yang nyaman. Seperti namanya, Cloud 9 atau langit kesembilan, ia ingin pelanggan merasakan kenikmatan maksimal. Hanya, tempat ini tidak memiliki tempat parkir yang mencukupi karena lahannya hanya cukup untuk kurang dari 10 mobil.

Mereka yang tak kebagian lahan parkir terpaksa parkir mengular di sisi jalan yang sudah sempit. Dan di kafe itu tidak ada pembatasan khusus untuk area minuman beralkohol, yang sering mengaburkan pengunjung remaja saat memesan menu ini
Sumber : tempointeraktif

laguna, sushi tei,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s