Kopi Bukan Sekedar Minuman Pemuas Lidah

Kopi bukan lagi sekedar minuman pemuas lidah atau tenggorokan. Kopi kini sudah menjadi identitas kelas, ikon budaya, juga penanda konstruksi sosial suatu individu atau masyarakat. Bagi masyarakat kelas atas, ritual minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Di sana ada interaksi bernuansa santai, tapi tak jarang berlangsung serius. Bicara tentang transaksi bisnis, kontrak dan diskusi proyeksi kerja, sering berlangsung di antara seruputan-seruputan kopi di kafe-kafe atau lobi hotel.
Cita rasa kopi juga beragam. Kopi tak lagi hanya berupa cairan hitam pekat, tetapi sudah banyak jenisnya dengan berbagai campuran hasil industrialisasi modern. Ada coffee macco, cappucino, frappio chocochip, caffelatte, moccalatte dan lain sebagainya. Di berbagai kota, berbagai usaha kafe tumbuh sangat marak menyajikan beragam kopi, sehingga memudahkan para pecinta kopi menikmati waktu sambil bersantai, berbincang, bahkan memperteguh cinta dan tali kasih antar sepasang kekasih. Atau bahkan membuang sedih akibat persoalan hidup dan retakan rumah tangga.
Sastrawan kawakan Seno Gumira Ajidarma, pernah menulis cerpen apik berjudul Rembulan dalam Cappuccino, tentang drama rumah tangga yang berakhir pada perceraian. Setelah bercerai, si perempuan pergi membawa hatinya yang berat ke sebuah kafe. Di kafelah perempuan itu merenungi takdirnya.
“Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappuccino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya,” demikian Seno memulai kisahnya.
Demikianlah perubahan pola hidup masyarakat modern dapat dilacak melalui secangkir kopi. Jika dahulu kopi terasa pahit, sekarang ia hadir dengan aneka rasa. Perubahan rasa kopi ini juga menjadi bagian dari perubahan konstruksi hidup masyarakat metropolis. Sayangnya, pola hidup sebagian masyarakat Indonesia yang komunal mulai rusak digempur kultur barat. Orang-orang kota kini menghabiskan waktu di kafé-kafé sambil menikmati kopi dengan sebuah laptop dan fasilitas hot spot membuang sepi, tapi tak peduli kondisi masyarakat sekitarnya.
Meski begitu, kedai kopi tetap kuat fungsinya sebagai wadah dan perekat sosial untuk masyarakat yang tinggal di pedesaan dan perkotaan tertentu. Sejak zaman dulu di beberapa pedesaan, tradisi minum kopi telah mengakar meski konsepnya berlangsung sederhana di warung-warung kumal khas desa. Para peminum kopi ini umumnya orangtua, dan warung kopi adalah sarana bagi mereka bersosialisasi dan bertukar pikiran.
Di wilayah perkotaan, kebiasaan minum kopi tentu berlangsung lebih dinamis. Beberapa kota bahkan memiliki kedai kopi khusus tempat para pejabat, wartawan, politisi dan aktivis berkumpul dan membicarakan isu-isu perkotaan. Ada proses demokrasi berlangsung alami di situ. Ada apa sebenarnya dengan kopi?
Sejumlah Fakta
Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa kopi memberi dampak positif kepada peminumnya. Minum kopi antara 1 hingga 3 cangkir kopi sehari dapat membuat tubuh terasa segar, bergairah, daya pikir lebih cepat, tidak mudah lelah ataupun mengantuk. Kafein yang terkandung di dalam kopi sangat membantu terhadap perubahan cadangan lemak menjadi energi. Hal itu membuat penikmat kopi percaya bahwa kopi dapat menstimulus susunan saraf pusat (otak) menjadi lebih bersemangat dan meningkatkan gairah kerja dalam mengawali hari baru.
Pada masa ini, kopi bukan hanya dikonsumsi laki-laki. Sejalan dengan tuntutan lifestyle, banyak wanita menjadikan kopi sebagai cara diet untuk menunda lapar dengan minum kopi di pagi hari. Tentu, cara ini sangat efektif untuk mendapatkan tubuh yang ideal, langsing dan dan seksi. Bagi anak–anak, dengan memberinya minum sedikit kopi setiap minggu, ternyata dapat menguatkan jantungnya.
Namun demikian, tidak semua orang dapat mengonsumsi kopi, terutama jika orang tersebut menderita maag, atau memiliki penyakit tertentu. Mengonsumsi kopi jika berlebihan, juga dapat menyebabkan insomnia, sakit kepala, dan jantung berdebar-debar.

(hariansumutpos)
Nelayan restoran, coffee bean, Loewy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s