Mencicipi Tulang dengan Sedotan

Di depan saya terhidang semangkuk sop tulang sumsum kambing. Panasnya mengepul dan tampak lezat. Sop ini memiliki kuah kaldu yang bening dan sangat gurih. Cara menyantapnya cukup unik: saya harus menghirupnya dengan cara memasukkan sedotan panjang ke dalam rongga tulang.

Karena tampak lezat, saya langsung menyerbu begitu sop berada di depan saya. Tapi… aduh! Lidah saya kepanasan. Ternyata panas sop ini memang harus ditunggu beberapa saat untuk menjadi hangat. Setelah itu barulah kelembutan sumsum mengalir di lidah saya. Dan rasanya… hmm… sungguh enak.

Sop tulang sumsum kambing ini merupakan menu andalan dari kedai makanan khas Medan milik Abdul Madjid. Kedai ini terletak di pojokan diantara deretan tempat-tempat makanan yang berada tak jauh dari perempatan jalan Mangga Besar, Jakarta Pusat.
Suasana rumah makan Bang Madjid.

Meski bentuk kedai cukup sederhana, tapi tidak demikian halnya dengan citarasa makanannya. Saat bertandang ke kedai yang buka dari pukul 18.00 hingga 01.00 WIB ini, saya melihat pengunjung datang silih berganti. Tak putus-putus. Tak heran jika omzetnya mencapai hingga satu juta rupiah setiap malam.

Dan menurut Bang Madjid, demikian pria berusia 60 tahun ini biasa disapa, orang-orang yang datang umumnya berasal dari Medan. Satu diantara pelanggannya adalah tokoh Surya Paloh, yang sering menggunakan makanan Bang Madjid untuk berbagai perhelatan.

Selain sop tulang sumsum kambing, Bang Madjid juga menyediakan banyak makanan khas Medan lain. Diantaranya mie kocok Medan, roti cane (prata), roti jala, kari kambing, kari ayam, martabak India, dan teh tarik Penang.

Berbagai makanan ini biasanya tidak berdiri sendiri. Ia disantap-padukan dengan makanan lain.

“Kalau roti cane ini kawannya kari kambing atau ayam dan acar bawang merah,” kata Bang Madjid memberi contoh.

Roti cane yang gurih ini kemudian diramu dengan tepung terigu, mentega, dan sedikit gula dan garam. Roti akan kian menyedap ketika berpadu dengan rasa kari kambing atau ayam yang kaya dengan bumbu racikan khas Medan.
Bang Madjid sedang memasak makanan khas Medan.

Tapi untuk roti jala, pria kelahiran Binjai, Sumatera Utara, ini mengaku tak dapat menyuguhkan di kedainya. Alasannya karena keterbatasan tempat memasak. Jadi, khusus menu ini, ia hanya melayani untuk pesanan katering saja.

Sedangkan untuk meracik masakan Medan, bahan bakunya menggunakan berbagai macam bumbu yang sudah digiling halus dan siap digunakan. Bumbu ini didatangkan dari berbagai daerah, termasuk dari luar Indonesia.

Satu kilo bumbu halus ini harganya mencapai seratus ribu rupiah. Mahal memang. Tapi pria kelahiran Binjai, Sumatera Utara, ini cukup beruntung. Ia kerap memesan bumbu halus kepada saudaranya yang sering berpergian ke Singapura. Di Singapura harganya hanya sekitar dua puluh ribu rupiah saja.

Bang Madjid tidak tahu persis kenapa harga di Indonesia menjadi lebih mahal.

“Yah, mungkin ini soal pajak,” ujarnya datar. Setiap hari Bang Madjid menghabiskan sekitar setengah kilo bumbu halus. Jumlahnya akan berlipat saban ada pesanan Katering.

“Tiap kali pesan bumbu, paling-paling hanya sekitar 20 kilo saja. Biar nggak kelamaan disimpan dan tetap segar bumbunya. Tapi kalau ada pesanan katering, baru kita pesan lagi dalam jumlah lebih besar,” kata pria yang sudah 20 tahun menggeluti usahanya ini.

Jika Anda ingin mencicipi kelezatan makanan khas Medan di tengah padatnya Jakarta, datanglah ke kedai Kuch-Kuch Hota Hai di jalan Mangga Besar. Di sana ada Bang Madjid, pria asal India, yang akan melayani Anda dengan ramah.

* wisataloka
table8, sushi tei, burger

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s