Daging Iga Masak Balado ala Pak’e Gendheng

Kota Melbourne di Australia memiliki sejumlah rumah makan yang menyajikan makanan Indonesia. Salah satunya adalah rumah makan Blok M, berlokasi di Commercial Road Prahran, persis di depan Prahran Market.
Pemiliknya, Siswanto Wiropuspito Mojosongo (46), memang punya hubungan dengan Blok M di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dia pernah menjadi preman di sana dan penamaan itu dia sengaja agar selalu ingat asal-usulnya.
“Supaya tidak menjadi orang yang sombong,” ujar Siswanto yang lebih senang menyebut rumah makannya sebagai warung. Dalam seminggu rata-rata omzet tempat ini bisa mencapai 6.300 dollar Australia, sekitar Rp 50 juta.
Ia menambahkan, kata Mojosongo pada nama belakangnya karena dia berasal dari Kampung Mojosongo di sebelah utara Kota Solo, Jawa Tengah. Oleh pelanggannya, Siswanto justru akrab disapa Pak’e.
Bagi mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Melbourne, nama Blok M sudah tidak asing lagi. Tempat makan ini menjadi favorit mahasiswa Indonesia yang kangen pada rasa masakan Tanah Air dan kehangatan suasana warung di Indonesia.
Ada banyak menu di Blok M yang bisa menampung 25 tamu. Untuk menarik tamunya, Pak’e mengabadikan berbagai peristiwa dunia sebagai nama menu. Ada ikan bakar jahanam, pempek Sadam Husein, ayam bakar tsunami, Pak’e Gendheng (gila), gudeg Mbah Marijan, gule tikus Blok M, dan masih banyak lagi. Pak’e juga menjual kerupuk kaleng seharga satu dollar Australia untuk satu kerupuk.
Harga makanan di situ berkisar 6-10 dollar Australia, sedangkan minuman 2-4 dollar Australia. Makanan ini termasuk murah bila dibandingkan dengan makan yong tau fu, semacam rebusan makanan laut, yang di sana harganya 11 dollar Australia.
Menu unik Pak’e masing-masing punya cerita. Pempek Sadam Husein, misalnya, dibuat ketika Amerika menyerang Irak untuk menjatuhkan Sadam Husein. “Sebenarnya makanan yang saya masak tidak terlalu istimewa. Tetapi, masakan saya ini menjadi klangenan lidah orang Indonesia yang kangen masakan warung,” kata Pak’e merendah.
Malam itu saya mencoba pempek Sadam Husein buatan Pak’e. Pempek buatan Pak’e sebenarnya pempek bakar. Setelah direbus, pempek kapal selam tersebut dibakar dulu sebelum dihidangkan. Setelah dibakar, rasanya lebih gurih dan tidak berminyak seperti pempek goreng.
Sekelompok mahasiswa Indonesia yang sedang makan malam menyarankan menu baru warung ini, yaitu Pak’e Gendheng, karena masakan ini dianggap paling enak di antara menu lainnya.
Menu Pak’e Gendheng sebenarnya daging iga masak balado. Pak’e memberi banyak kecap pada iga balado ini sehingga warnanya menjadi kehitaman, bukan merah karena gilingan cabai.
Saat dihidangkan, iga balado ini diletakkan di satu mangkuk. Sedangkan mangkuk kecil lainnya berisi kuah gule yang ditaburi daun bawang. Tidak lupa Pak’e menyediakan kerupuk yang menjadi andalannya.
Sambil makan saya mengobrol dengan beberapa mahasiswa asal Yogya, Solo, dan Semarang. Andri, salah satu mahasiswa, mengatakan, ia sering nongkrong di Blok M bila sedang kangen pada masakan ndeso, seperti tongseng, gule, nasi goreng, dan wedang (minuman) jahe.
Belajar dari buku
Pak’e memasak sendiri menu-menu yang dibuatnya. Sebelumnya, Pak’e sama sekali tidak bisa memasak. Ia terpaksa belajar memasak dari buku resep setelah memberhentikan juru masaknya. “Tukang masakku ketagihan judi. Lha ciloko (celaka), pas banyak tamu dia malah pergi ke kasino,” kata Pak’e.
Pak’e sekarang dibantu Mursid (63), kenalannya. Karena hanya berdua, terkadang mereka kewalahan bila kedatangan banyak tamu.
Bila warungnya penuh, Pak’e sering mempersilakan tamu yang sudah akrab dengannya untuk memasak atau mengambil minuman sendiri. “Saya kasih tahu bumbunya apa saja. Mereka meracik lalu memasak sendiri,” tutur Pak’e.
Buka dari pukul 12.00 hingga 24.00, Blok M memang terlihat seperti warung daripada rumah makan. Bangunan yang disewa Pak’e itu berukuran sekitar 40 meter persegi.
Di warungnya Pak’e membuat panggung kecil-kecilan. Di situ Pak’e menghibur tamu dengan bermain gitar sambil bernyanyi, kadang-kadang mengiringi tamu yang ingin bernyanyi.
Di ruangan yang tidak terlalu besar itu, Pak’e meletakkan tiga meja makan besar dan dua meja makan kecil. Pria yang suka guyon ini menggunakan benderaPalestina dan bendera Irak sebagai taplak meja. Sedangkan untuk gorden pembatas ruang makan dan dapur, Pak’e menggantungkan kain batik.
Dinding warung penuh dengan foto Pak’e bersama artis, tokoh masyarakat, dan pejabat negara. Mereka adalah pelanggan Pak’e dari Indonesia bila sedang berkunjung ke Melbourne. Pak’e juga memajang beberapa wayang kulit di satu sisi dinding.
Pak’e sengaja membuat “ramai” dinding rumah makannya. Kata Pak’e, cara itu dipakai untuk mengalihkan perhatian tamu dari lantai rumah makannya yang jelek.
Lantai warung Pak’e tidak seragam, sebagian coklat sebagian lagi putih. Di beberapa bagian malah sudah tidak ada keramiknya karena pecah.
“Ongkos perbaikannya mahal. Lagipula kalau amburadul begini malah nyeni,” kata Pak’e yang tidak lulus SMP itu. Justru kesederhanaan itu yang membuat Blok M menarik mahasiswa.
Sumber    : kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s